Different world
| shoot by : w_z |
Pertiwi, nama yang kedua orang tua ku berikan. Aku tinggal di pedesaan dengan kedua orang tua yang sederhana. Sedari kecil aku sudah terbiasa mandiri, dan sekarang di usiaku yang ke 18 aku ingin mencoba hidup merantau jauh dari kedua orang tuaku meskipun mereka sedikit hawatir, tapi mereka mendukung ku. Bukan tanpa sebab aku jauh dari orang tua, aku merantau karena aku mendapatkan beasiswa di PTN di daerah bandung dan kebetulan aku disana sementara tinggal di tempat paman dan bibi dari pihak ayah sebelum aku menemukan kos an.
Bukan tanpa sebab orang tuaku hawatir kalau aku jauh dari mereka, namun sejak kecil aku sering mengalami ke anehan yang orang bilang mistis, kata mereka aku selalu ada yang mengikuti. Tapi aku sendiri yang mengalami hal tersebut tidak terlalu percaya, hanya saja ibu yang selalu hawatir dan selalu bilang "wi, nanti kalau kamu ada apa2 gmn?, misalnya ada yang muncul gt?", dan ku bantah pernyataan ibu "gak ush hawatir bu, insyaAllah aku gak apa2, wi gak terlalu percaya yang gitu2"
Sekarang aku tlah sampai d rumah paman dan bibi ku, dengan di antar kedua orang tua dan adik ku. Mereka menyambut kami dengan ramah, dengan berbasa basi stlah mengantarkan dimana aku menetapi kamar d rumah tsb, oh iya paman dan bibiku memiliki 1 anak perempuan. Sikap ramah tersebut tidak berlangsung lama, setelah kedua orang tua dan adik ku pulang dan aku tinggal beberapa hari disana, sikap mereka cuek dan agak gimana gtu, dan karena kami juga kurang akrab, jd interaksi kami kurang. Tp gak kaya di sinetron jg sih yang kejam perlakuin kita kya cinderella or babu. Cuma, ya dari mimik nya seperti keberatan aku menumpang. Namun keanehan yang ibu ku takuti mulai sering muncul lagi, sebetulnya ke anehan ini bukan hal yang menakutkan menurutku cuma ada hal2 ganjil dan terkadang diluar nalar. Seperti aku merasa ada yang mengikuti, terkadang di pojokan atau apa serasa ada yang menemani apalagi ketik aku sedikit tersinggung dengan eprlakuan keluarga paman ku maka akan ada aja kejadian aneh. Seperti kompor yang tiba2 menyala tanpa ada yang menyalakan, dan hampir terjadi kebakaran untung segera tercium bau gosong dari dapur, dan ketika dilihat disana kompor menyala dg wajan yang gosong di atasnya, mereka saling menyalahkan namun memang pada saat itu belum waktunya memasak. Dan masih banyak lagi ke anehan yang lain seperti barang yang hilang di tempat penyimpanan dan berhari2 baru ketemu d tempat semula atau seperti ada suara yang mengucapkan salam namun tidak ada siapa2 diluar. Untuk ku sendiri ke anehan bukan hanya sekedar itu, aku sering mengalami seperti rep2an sebelum tidur tp aneh nya bukan hal yang menakutkan, disitu sering terlihat sesosok pria gagah yang berpakain serba putih yang selalu bilang "aku akan menjagamu" atau ketika aku sakit dan tidan sendiri di kamar, antara sadar dan tidak aku merasa ada yang mengusap kepala ku dan bilang "jangan takut aku selalu da disini" tapi seperti sosok yang berbeda dari sebelumnya sosok yg satu ini seperti bapak2 dengan badan tinggi besar dan berpakaian serba hitam dengan rambut sebahu.
Waktu berlalu, sudah hampir 4 bulan aku disini dan dari dulu diam2 aku memiliki penghasilan kecil2an karena menjdi resseler dropshipper, berjualan online yang gak harus nyetok barang tapi langsung d krim dari sellernya meskipun untungnya gak bnyak tapi lumayn untuk bekal biar gak hrus repotin ortu. Keluarga paman dan bibi ku merasa aneh karena aku tidak bekerja tp aku bisa beli kebutuhanku sendiri dan kadang berbagi dengan mereka. Suatu hari setelah aku pulang dari kampus dan menyempatkan diri berbelanja kebutuhan dan juga sedikit makann utk kluarga pamnku, hari mulai gelap karena aku pulang dari kampus ba'da shalat magrib, jalanan sudah sedikit sepi dan aku merasa ada yang mengikuti namun ketika menengok ke belakang tak ada siapa2, yang ku takutkan adalah orang jahat, ya mskipun tak terlalu jauh namun entah kenapa malam itu sepanjang jalan gang ke rumah paman terasa sepi, mungkin karena setelah hujan deras tadi sore orang malas keluar rumah. Aku sedikit mempercepat jalan setengah berlari namun suara yang mengikuti masih terdengar sura orang yang berjalan dengan santai, bukan takut hal2 yang mistis tapi yang ku takutkan adalah orang yang berniat jahat, namun sekali lagi ku tengok ke belakang tak ada apa2. Hingga sampai di depan gerbang pintu rumah paman suara itu menghilang. "Assalamu'alaikum" sahutku ketika masuk, "wa'alaikumsalam" jawaban serempak dari dalam rumah dan kebetulan paman sekeluarga sedang berkumpul di ruang tamu dan ku lihat ada tamu juga di sana, sepertinya pacar seupuku berkunjung aku menyalami mereka semua kecuali pacar sepupuku kami hanya salma jauh krn kita bukan muhrim dan bibi ku berkata "wi koq baru pulang, trus knp jalan kaki" dengan nada yang sedikit sinis, paman, sepupuku dan pacar nya hanya melihat. "Wi, tadi habis ikut kegiatan di kampus sampai sore, tanggung maghriban dulu d kampus dan..." belum juga selesai bicara bibi ku sudah memotong penjelasan ku "ck, ya sudah sana, beres2 dan bersih2 kamu kliatan kuyu gitu" katanya "iya bi" jawabku. Aku pun tak membantah, aku menuangkan makanan yangku beli ke piring dan di simpan di meja makan serta menyimpan belanja lainnya dengan niat sedikit meringankan beban kluarga paman karena aku telah numpang di rumahnya. Selesai mandi dan menunaikan shalat isya, aku mendengar bibi ngobrol dengan paman "kang, si pertiwi teh kan disini kuliah naha koq bisa belanja, beli2 barang, padahal keluargana pas2an di lembur?" ucapnya "pan pertiwi dapat beasiswa, mungkin biaya ti ibu bapakna sok nyesa" jawab pamanku tak kudengar suara selfi sepupuku mungkin masih dengan pacarny di ruang tamu or lagi jalan "ah teu mungkin kang, tingali atuh pan si tiwi sok meli buku, barang2 jeung belanjaan dapur timana eta coba? Mana sekarang sok pulang hampir malem wae?" bantah bibi ku "maksud neng apa?" tanya paman yang gak ngerti arah obrolan istrinya. "Ya maksud neng mah si tiwi jangan2 mulai kena pergaulan bebas?" balas bibiku sambil sedikit berbisik "astagfirullahaladzim, neng maenya ah, si tiwi mah tampangna ge biasa wae, tara dandan" bantah paman ragu2 "ih ari akang, jaman sekarang mah banyak di rumah gaya biasa aja di luar gak tau kan tiwi mah kuliahna tempat nu elit, untung anak kita mah sederhana kuliah ge d tempat biasa teu neko2 pengen di universitas bagus" kata si bibi "aduh masa tiwi gitu neng, kasian atuh kang wawan jeng teh irma kalau iya tiwi kos kitu" jawabnya dengna mimik sedih "nya kumaha atuh kang pergaulan mah da, maklum ue ti lembur ka kota jd kabawakeun, tapi ulah sampe keluarga tiwi mun ay nanaon nyalahken kang asa jadi beban pikiran neng mah" ucapnya "ya gimana atuh neng, maenya si tiwi di usir, karunya lagian nanti kang wawan bisi marah ka akang" jawabnya
Aku yang tak sengaja mendengar percakapan mereka merasa sedih, ternyata selain cuek dan agk sinis dimata mereka aku seperti itu dan itu memicu semangatku untuk secepatnya ngekos, karena sudah lama aku merencanakan pindah dan kebetulan aku sudah dapat kosan yang strategis dekat dengan kampus dan lingkungannya aman serta biayaku juga sudah cukup terkumpul untuk membayar selama 1 tahun dan aku sudah mencicil belanja barang2 dan sudah aku tempatkan di kosan tersebut 1 minggu yang lalu. Tak berapa lama bibi heboh dari dapur keluar asap dan kembali kejadian kompor yang menyala sendiri dan panci yang gosong di atasnya terulang. Bibi dan paman merasa heran, sudah lebih dari 3x kejadian seperti itu, paman menanyakan berkali2 mungkin ada yang memasak dan lupa mengangkatnya.
Ke esokan harinya, kebetulan libur, aku mendatangi paman dan bibi yang sedang berkumpul ruang keluarga dengan selfi juga, bermaksud menyampaikan niatku untuk pindah dan ngekos. Aku mendudukan diri di sofa single disamping mereka mereka bertiga melirik "eh wi, udah sarapan?" paman ku berbasa basi "sudah mang" jawab ku "mang, bi maaf sebelumnya wi mau minta izin.." belum juga aku selesai bibiku sudah menyerobot "izin naon wi?!" dengan nada yang gimanaaa gtu "neng, bentar tuh blm beres tiwi ngomong udh di potong" timpal pamanku "sok wi lanjut" jawab pamanku "mang, bi, wi izin mau ngekos, soalnya kegiatan perkuliaahan lumayan sibuk trus wi ikutan masuk organisasi kampus jadi takut telat pulang kaya kmarin" papar ku. "eleeuh, jd kamu mau ngekos? Emang kamu ada duitnya? Ngekos itu slain buat byar kos, but biaya sehari2 dan lain2, ari kamu gak kasihan sama orang tua kamu yang pas2an?" cerocos bibi ku, "iya teh, lagian buat apa ngekos? Biar bebas?" timpal selfi sedangkan pamanku diam saja mendengarkan cerocosan dari keluarganya untuk ku "Alhamdulillah untuk biaya wi ada, kanbeasiswa ini ada semacam uang utk keperluan mahasiswanya dan tabungan wi juga cukup karena wi sedikit2 punya penghasilan dari jualan online sebagai dropshipper dari wi SMA, ya meskipun gak banyak tapi cukup lah" jelasku dan mereka semua dan mereka pun terheran ada sedikit gurat keraguan, tapi mereka menutupinya. "Kalau mamang terserah gimana baiknya, tapi apa kamu sudah izin orang tua mu? Nnti bagai mana pendpaat ayah ibumu kalau ternyata akmu tidak minta izin mereka, dan mamang gak mau mereka berfikir kalau kami mengusir mu" jelasnya panjang lebar "iya teh, jangan sampe wa irma berfikiran yg enggak2 sama kami" timpal selfi "tenang aja ibu sama bapak udah setuju malahan udah di rencanain dari dulu kalau udah tau seluk beluk di tempt kuliah tiwi sebaiknya kos aja soalnya tempat kuliah ke rumah mang gandi agak jauh, jadi mamang sama bibi gak usah hawatir insyaAllah keluarga tiwi gak akan berfikiran macam2" jelasku. "Oooh, kalau gitu ya sudah kami tidak hawatir. Rencana nya kamu akan pindah kapan?" kata mang gandi "rencananya siang ini mang, wi mau packing dulu kebetulan juga barang wi gak banyak" ucapku. "Tapi mamang sama bibi gak bisa nganter kami mau ada acara sama keluarga pacarnya selfi, ya kan kang?" ucap bi tita "iya... Gimana ya wi, mamang ada acara" ucapnya ragu "gapapa mang biar tiwi pakai taxi online aja gapapa" balasku biar mereka tenang "kalau gitu tiwi mau siap2 ngepak barang, permisi mang, bi, fi" pamitku, setelah masuk ku dengar mereka berbisik2 "halah alesan punya usaha online, mun enya knapa gak pernah kliatan prosesny, setok barangnya atau naon kek" ucap bi tita "ya kayknya ngekos juga biar bebas mah, mungkin kalau disini gak bebas "bergaul" gitu mah pah" ucap selfi dengan mnekan kata bergaul diucapannya sedangkan mang gandi gak berkata "ya sudah biarkan saja toh udah besar, mau melakukan yg menyerempet dosa jg yang penting gak disini, kalau disini kita yg kebawa dosanya, nya teu?" timpal mang gandi "iya bener juga kang, ya biarin lah" pungkas bi tita.
Setelah habis shalat dzuhur aku menggerek koper keluar dan beberapa kardus tempat brang2 ku yang lainnya. Mang gandi sekeluarga pun sudah bersiap2, aku pun pamit ke mereka "mang, bi, selfi... Tiwi pamit ya mau berangkat sekarang taksi y udah nunggu d depan" kataku sambil menyalami mereka "oh iya wi, maaf ya kita gak bisa anter" balasnya canggung "gapapa mang, mangga.. Assalamu'alaikum" pamitku.
Aku mulai bersiap menata hidupku sendiri, demi orang tuaku dan msa depanku. cerita keanehan bukan hanya sampai disini, justru setelah terpisah lebih banyak kejadian yang aneh yang dirasakan.
Next part ya.. Udah dulu, penulis janji ini gak sampai banyak part paling 3 part jg end. Maaf g di tamatin sekaligus soalnya masih sedikit panjang. Tapi nanti ya di lanjutin kalau ada yang minat dilanjut komen.
Komentar
Posting Komentar