Terlambatkah... (Renungku)
Langit siang disini sama biru, namun terasa hampa tatkala menatapnya... Hening, diantara keramaian Sunyi senyap diantara hirukpikuk perkotaan Terasing sendiri, sesal sendiri... Berawal dari ketergesaan, berakhir dengan penyesalan Pergi tanpa fikir, hanya nafsu membumbung tinggi Nafsu yg seperti bara api terkena kencangnya hembusan angin Kulangkahkan kaki beralaskan api nafsu yg membara Meninggalkan berjuta kasih Melepaskan kasih murni dari putik bunga yg baru tumbuh Melewatkan beribu kemungkinan terbaik Menulikan berpuluh pendapat yg terbaik Terbang melepaskan rasa iba Menuju derita yg nyata Beralasankan menggapai asa dan cita Ternyata tak sesuai harap Tersesat langkahku diantara sesal dan kesal Tunggu, tunggu... Mengapa ada tetesan air Setetes demi setetes lalu deras tak terbendung Darimana datangnya tetesan air ini sedang kulihat diluar sana matahari pamer teriknya Mengingatkanku kembali, ini negri padang pasir Dimana matahari dan angin menguasai Ya meskip...